Home / Nasehat / Menata Sandal ( Sebuah Renungan Untuk Kita )

Menata Sandal ( Sebuah Renungan Untuk Kita )

yo jujur, bukankah menata sandal secara rapi di masjid bukan perkara sederhana bagi seorang muslim?! Terbukti, di sana-sini banyak kita jumpai tatanan sandal yang jauh dari kesan rapi. Utamanya saat Sholat Jum’at, Sholat Id atau pengajian umum yang memang menyedot kehadiran jama’ah melebihi kondisi hari-hari biasa. Kalaupun ada yang rapi, tentu segelintir saja. Biasanya sisa sandal yang tak tertampung di tempat penitipan barang.
Sudahlah, fakta ini tak terbantahkan. Saya sering menjumpainya. Begitu seorang jama’ah datang, buru-buru ia melihat sekeliling. Mengamati kiranya ada tempat strategis untuk memarkir sandalnya. Bagi yang tak berpikir panjang, langsung saja ia taruh di baris paling belakang dengan posisi sekenanya. Bagi jama’ah yang lebih “sabar dan cermat”, ada saja tempat terbaik untuk sandalnya yang baru hadir. Kadang ia menggeser atau memindah sandal yang telah lebih dulu ada di sana, diganti miliknya. Jika tidak, biasanya dengan legowo memarkir sandalnya tepat di atas sandal orang lain. Jadilah tatanan sandal bertindih-tindih. Ini biasa dilakukan oleh mereka yang tak ingin sandalnya kotor terinjak-injak. Itu tadi soal kedatangan.
Ketika turun masjid, lain pula urusannya. Gara-gara khawatir sandal kesayangan diperlakukan kurang manusiawi (eh maaf, maksudnya kurang ‘sandalwi’…), terkadang diri ini terprovokasi untuk lekas turun dari masjid. Begitu agenda ibadah usai, pikiran langsung tertuju pada sandal. Terlebih saat membawa sandal yang agak bagus, apalagi baru. Karena kalau tidak, siap-siap saja mendapati sandal kita kotor lantaran diinjak-injak jama’ah yang telah lebih dulu keluar.
Resiko sandal kita terlempar di kejauhan pun kadang tak bisa terelakkan. Andai hal ini lantas terjadi, maka pelajaran ikhlas dan menahan amarah seketika itu juga kita dapatkan. Soal sandal tak rapi ini memanglah hal kecil alias sepele, tapi eiiit… tunggu dulu. Dalam hal ini saya teringat pesan KH. Abdullah Gymnastiar, “Barangsiapa tidak becus pada hal yang kecil, maka ia akan tidak becus pula dalam hal besar”.
Saya khawatir, ketidakmampuan menata sandal secara rapi ini membuat kita tidak berdaya dalam perkara yang lebih besar. Contohnya dalam hal persatuan ummat dan ketimpangan sosial ekonomi. Ummat Islam terpecah di mana-mana dan mudah diadu domba, bahkan ada yang saling mengkafirkan. Di sisi lain, ada segolongan ummat yang sangat kaya dan tak sedikit yang dalam kondisi miskin sekali.
Dalam kasus sandal, dapat kita pahami bahwa kita seringkali lebih memikirkan diri sendiri daripada orang lain. Tidak mempedulikan sandal milik orang lain, yang penting sandal kita mendapatkan tempat parkir terbaiknya. Tak jadi soal, meski untuk mendapatkannya kita harus menggerus dan mencampakkan yang lain. Jika kita memiliki pandangan yang demikian, maka iman kita layak ditinjau kembali. Sebab pesan Rasulullah SAW, “Seseorang di antara kalian tidak (dikatakan) beriman sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari Muslim) ( http://www.kompasiana.com//kanghermanto/menata-sandal-saja-tak-rapi)
 Karenaya SD Al Irsyad berkomitmen untuk menjadikan habits / kebiasaan menata sandal sebagai bagian dari pembiasaan yang ditanamkan pada para siswa,  hal ini perlu kiranya di dukung oleh para orang tua supaya mengkondisikan putra dan putrinya rapi dalam menata sendal di rumahnya  sehingga tercipta kebiasan yang baik dan karakter unggul dalam  tiap pribadi siswa SD Al Irsyad

Ayoo tanamkan kebiasan baik menjadi sebuah karakter bagi putra putri kita mulailah dari hal yang kecil seperti menata sandal

Zahid Usman

About Zahid Usman

One comment

  1. Berangkat dari perbuatan atau sikap yang dianggap sepele dalam menata sandal akan dijadikan sebagai tolok ukur untuk sikap lain yang lebih besar. Kalau hal yang kecil saja bisa tertib apalagi hal yang lebih besar tentu akan lebih tertib lagi.Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *