Home / Berita / Asyiknya Menjadi Santri

Asyiknya Menjadi Santri

sdalirsyadtegal.com – Kehidupan di pesantren merupakan pengalaman yang mengasyikkan bagi para santri dan sekaligus mengesankan, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Pagi-pagi betul mereka sudah harus bangun untuk qiyamullail, dilanjutkan shala subuh, tadarrus, mandi, mempersiapkan buku-buku pelajaran, sarapan pagi, berangkat ke sekolah, mencuci baju, merapikan kamar tidur, berolahraga, pramuka, dan kegiatan lainnya. Semua itu harus mereka lakukan sendiri. Ya, semuanya serba mandiri. Masa-masa di mana kebanyakan anak-anak yang seusia mereka berkumpul bersama orang tuanya, atau bahkan masih dilayani orang tua, namun para santri harus merelakan momen bersama orang tuanya untuk sementara waktu harus berpisah dulu, melepas ikatan kebergantungannya kepada orang tua. Walau demikian, mereka tetap asyik dan enjoy melakukannya.

Yang lebih mengasyikkan lagi, mereka berkumpul, bergaul, berinteraksi, berkomunikasi bersama teman-temannya dari latar belakang yang berbeda, bahasa, suku, daerah, bangsa, adat dan tentunya karakter yang berbeda. Semuanya membaur dalam satu tujuan, yakni thalabul ilmi. Asyik, karena mereka selalu bersama bukan saja saat waktu-waktu belajar di kelas, namun juga di luar kelas. Mereka jadi saling tahu adat, budaya, bahasa, logat antara satu dengan lainnya. Mereka saling belajar dan tukar informasi serta pengalaman masing-masing.

Lagi, yang membuat asyik adalah budaya antri. Fasilitas dan sarana yang terbatas, sementara jumlah santri yang cukup banyak membuat mereka harus rela antri. Makan antri, mandi antri, buang hajat pun harus antri. Antri sepintas memang menjemukan, namun budaya antri sejatinya melatih dan mengajarkan kesabaran. Mereka diajarkan bagaimana mendahulukan kepentingan dan hak orang lain daripada kemauan ego. Orang yang datang lebih awal, dialah yang berhak mendapatkannya. Sedangkan yang datang belakangan pun harus rela menanti gilirannya tiba walau lama. Menyerobot barisan atau memotong kompas sejatinya adalah tindakan bodoh yang merampas hak orang lain. Budaya suap, korupsi, nopotisme, dan kolusi di antaranya lahir dari sikap acuh dan tidak peduli terhadap pentingnya antri.

Keasyikan-keasyikan tersebutlah yang coba diperkenalkan kepada siswa/siswi yang saat ini duduk di kelas 6 SD Al-Irsyad Tegal saat mereka mengikuti kegiatan luar sekolah (outdoor), yakni Mabit. Melalui kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) yang dilakukan pada Jum’at-Sabtu (24-25/03/2017) di Pondok Pesantran Tahfidzul Qur’an Zainuddin, Jl. Tegal-Pemalang, Maribaya, Kabupaten Tegal, mereka diperkenalkan banyak hal selama menginap di pesantren yang terletak di Pantura ini, di antaranya; mengenal lebih dekat kehidupan santri di pondok pesantren dalam kesehariannya, dari bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka juga diajarkan tentang pentingnya arti kebersamaan, kesederhanaan, kepedulian, keikhlasan, kesabaran, ketekunan, persahabatan, keprihatinan, kesungguhan, dan pengalaman lainnya.

Di bawah bimbingan pengasuh pondok, KH. Lukman Hakim Al-Hafidz dan para Asatidzahnya, mereka dibimbing dan dibekali cara menghafal Al-Qur’an dengan baik. Semoga akan lahir generasi muslim yang Qur’ani. Wassalam …. (Ali S)

About adminsekolah

Check Also

SIMA’AN MENUMBUHKAN SEMANGAT HAFALAN SISWA

  Sabtu, 21 April 2018 adalah pekan terakhir siswa–siswi program TICC (Tahfidz and International Curriculum …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *